• SMK PGRI TEGAL
  • Sekolah yang mewujudkan lulusannya banyak terserap pekerjaan, sesuai dengan keinginan orangtua

ARTIKEL PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD

PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI MULTIMEDIA SMK PGRI KOTA TEGAL

Endri Irmawan, S.Pd

SMK PGRI Kota Tegal

ernerstos@gmail.com

 

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan hasil  belajar siswa, dan mendeskripsikan aktivitas siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division (STAD). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Adapun subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas XI Multimedia SMK PGRI Kota Tegal dengan jumlah siswa 27 orang. Pengumpulan data diperoleh melalui evaluasi, lembar observasi proses pembelajaran. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal yang meningkat pada evaluasi siklus I yakni sebanyak 17 orang siswa atau 62,96% menjadi 18 orang siswa atau 66,67% pada siklus II.Selama proses pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division (STAD) pada materi bunyi terjadi pula peningkatan rata-rata aktifitas siswa sebesar 13,34%, yakni pada pertemuan pertama sebesar 54,44% dan pada pertemuan keempat sebesar 67,78%.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Aktifitas Siswa, Strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement  Division (STAD)

 

PENDAHULUAN

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada anak untuk menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 Bab I Pasal 1 Ayat 6, Standar Proses Pendidikan adalah standar nasional pendidikan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran pada satu satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi lulusan. Dalam implementasi Standar Proses Pendidikan, guru merupakan komponen yang sangat penting, sebab keberhasilan pelaksanaan proses pendidikan sangat tergantung pada guru sebagai ujung tombak. Oleh karena itulah upaya peningkatan kualitas pendidikan seharusnya dimulai dari pembenahan kemampuan guru. Salah satu kemampuan guru yang harus dimiliki adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan atau kompetensi yang akan dicapai, karena kita yakin tidak semua tujuan bisa dicapai oleh hanya satu strategi tertentu.

Belajar fisika bagi anak yang suka dengan pelajaran berhitung tentu bukanlah suatu hal yang sulit ketika diperhadapkan dengan rumus dan angka-angka. Hal yang berbeda bagi anak yang menjadikan perhitungan rumus dengan angka-angka sebagai momok yang menyeramkan. Berdasarkan pengamatan di kelas khususnya kelas XI Multimedia beberapa permasalahan yang dialami dalam pembelajaran fisika sebagai berikut: (1) Prestasi belajar siswa di sekolah tidak sepenuhnya baik, nilai rata-rata ulangan harian siswa masih kurang dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yakni 70;(2) Guru masih menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi pembelajaran fisika dan jarang melakukan eksperimen;(3) Siswa kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran fisika, hal ini terlihat dari kurangnya interaksi antara siswa dengan guru maupun siswa dengan siswa untuk mengatasi kesulitan memahami materi;(4) Sumber belajar yang dimiliki siswa masih terbatas, (5) Siswa banyak mengalami kesulitan khususnya dalam pemahaman konsep dan perhitungan fisika khususnya bunyi.

Berkaitan dengan masalah di atas, perlu diupayakan suatu bentuk pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa dan penyajian materi fisika dengan lebih menarik, sehingga dapat membantu siswa mengatasi kesulitan belajar. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang tidak hanya mampu secara materi saja tetapi juga mempunyai kemampuan yang bersifat formal, sehingga diharapkan mampu meningkatkan prestasi belajar siswa dan juga dapat membuat siswa aktif terlibat dalam proses belajar mengajar yaitu dengan siswa menerapkan pengetahuannya, belajar memecahkan masalah, mendiskusikan masalah dengan teman-temannya, mempunyai keberanian menyampaikan ide atau gagasan dan mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya.

Melihat permasalahan di atas menunjukkan perlu adanya pembenahan pada proses pembelajaran baik dari metode, strategi maupun pendekatan, teknik, dan model pembelajaran yang diterapkan guru masih kurang sesuai dengan kondisi siswa. Karena keberhasilan proses belajar mengajar juga ditentukan oleh penerapan pembelajaran yang sesuai.

Salah satu strategi pembelajaran yang bisa diterapkan yaitu dengan strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams-Achievement Division (STAD).Dalam proses pembelajaran ini siswa diarahkan dalam tim belajar yang heterogen. Gagasan utama dari model pembelajaran ini adalah untuk memotivasi siswa supaya saling mendukung  dan membantu satu sama lain dalam menguasai kemampuan yang diajarkan oleh guru. Dengan panduan LKS siswa dapat saling berdiskusi dalam kelompok dan mempresentasikan hasilnya di depan kelas. Dalam STAD, diakhir pembelajaran guru akan memberikan reward (penghargaan) kepada kelompok yang memperoleh hasil terbaik.

 

LANDASAN TEORITIS

Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, pandangan seorang guru terhadap pengertian belajar akan sangat mempengaruhi tindakannya dalam membimbing anak didiknya pada waktu belajar. Seorang guru yang mengartikan belajar sebagai menghafal fakta, tentunya akan lain cara mengajarnya dibandingkan dengan guru yang mengartikan bahwa belajar sebagai suatu perubahan tingkah laku. Untuk itu penting artinya pemahaman guru akan pengertian belajar tersebut.

Dalam Kamus Praktis Bahasa Indonesia “belajar” berarti menuntut ilmu (kepandaian), melatih diri, berusaha, memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman.

Menurut pengertian secara psikologis, belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku sebagai hasil interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.

Belajar adalah suatu proses yang menghasilkan perubahan perilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman baru ke arah yang lebih baik (Hamzah B. Uno, 2011: 138).

Sementara itu, definisi lain ada juga yang mengatakan “belajar adalah berubah” (Sardiman, 2011: 21). Dalam hal ini dimaksudkan belajar berarti usaha mengubah tingkah laku. Jadi belajar akan membawa perubahan pada individu-individu yang belajar.

Menurut Gagne dalam Tim Pengembang MKDP Kurikulum dan Pembelajaran (2011: 124) berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses dimana suatu organisme berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman.Dari pengertian tersebut terdapat tiga unsur pokok dalam belajar yaitu: 1) proses; 2) perubahan perilaku; 3) pengalaman. Sedangkan menurut Oemar Hamalik (2001: 27) mengatakan bahwa “belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman”.

Jadi, dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses dengan tujuan untuk memperolah suatu perubahan baik perubahan tingkah laku, pengetahuan maupun keterampilan. Belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi di dalam diri seseorang setelah melakukan aktivitas tertentu. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai akibat dari hasil perbuatan belajar seseorang dapat berupa kebiasaan-kebiasaan, kecakapan atau dalam bentuk pengetahuan, sikap, dan keterampilan.   

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, maka dalam hal ini peneliti berpendapat bahwa belajar adalah segala usaha yang diberikan guru kepada siswa melalui hasil pengalaman belajarnya agar dapat dan mampu menguasai apa yang telah diterimanya melalui belajar aktif dalam hal ini adalah pembelajaran matematika.

Belajar sebagai proses atau aktivitas disyaratkan oleh banyak sekali hal-hal atau faktor-faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar itu banyak sekali macamnya. Baik buruknya hasil belajar sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor belajar baik dari dalam diri siswa (internal) maupun dari luar diri siswa (eksternal). Menurut Slameto (2010: 54-71) faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa diantaranya:

  • Faktor yang berasal dari diri sendiri (internal) yaitu terdiri dari:
  1. Faktor jasmani, meliputi faktor kesehatan dan cacat tubuh.
  2. Faktor psikologis, meliputi intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.
  3. Faktor kelelahan.
  • Faktor yang berasal dari luar diri (eksternal) yaitu terdiri dari:
  1. Faktor keluarga

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antara anggota keluarga, susasana rumah tangga, dan keadaan ekonomi keluarga.

  1. Faktor sekolah

Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, pelajaran dan waktu sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah.

  1. Faktor masyarakat

Meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat yang mempengaruhi dalam belajar yang berasal dari diri siswa terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan besar sekali pengaruhnya terhadap hasil belajar yang dicapai.

Adanya  pengaruh dalam diri siswa merupakan suatu hal yang logis dan wajar, sebab hakikat perbuatan belajar adalah perbuatan yang diniati dan disadarinya. Siswa harus merasakan adanya kebutuhan untuk belajar dan berprestasi. Sungguh pun demikian, hasil yang diraih masih juga bergantung dari lingkungannya. Salah satu lingkungan belajar yang paling dominan mempengaruhi hasil belajar disekolah adalah kualitas pengajaran. Yang dimaksud kualitas pengajaran adalah tinggi rendahnya atau efektif tidaknya proses belajar mengajar dalam mencapai tujuan pengajaran.

Dalam proses belajar mengajar guru memegang peran yang amat sentral dalam keseluruhan proses pembelajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa di sekolah dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan kualitas pengajaran.

Antara faktor kemampuan siswa dan kualitas pengajaran mempunyai hubungan berbanding lurus dengan hasil belajar siswa. Artinya, makin tinggi kemampuan siswa dan kualitas pengajaran, makin tinggi pula hasil belajar siswa.

Hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya (Sudjana dalam Hamzah B. Uno, 2011: 141). Horward Kingsley dalam Nana Sudjana (2010: 22) membagi tiga macam hasil belajar, yakni a) keterampilan dan kebiasaan; b) pengetahuan dan keterampilan; c) sikap dan cita-cita. Masing-masing jenis hasil belajar dapat diisi dengan bahan yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Sementara Bloom dalam Tim Pengembang MKDP (2011: 140) menyebutkan dengan tiga ranah hasil belajar, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Untuk aspek kognitif, Bloom menyebutkan ada  tujuh tingkatan yaitu 1) pengetahuan; 2) pemahaman; 3) pengertian; 4) aplikasi; 5) analisis; 6) sintesis; 7) evaluasi.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya proses belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku secara keseluruhan baik yang menyangkut segi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Proses perubahan yang terjadi dari yang paling sederhana sampai pada yang paling kompleks, yang bersifat pemecahan masalah, dan pentingnya peranan kepribadian dalam

Sekolah merupakan salah satu pusat kegiatan belajar. Dengan demikian, di sekolah merupakan arena untuk mengembangkan aktivitas. Banyak jenis aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah. Aktivitas siswa tidak cukup hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisional.Paul B. Dierich dalam Sardiman (2011: 101) membuat suatu daftar yang berisi 177 macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan sebagai berikut.

  • Visual activities, yang termasuk di dalamnya misalnya, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain.
  • Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
  • Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: uraian, percakapan, diskusi, musik, pidato.
  • Writing activities, seperti misalnya menulis cerita, karangan, laporan, angket, menyalin.
  • Drawing activities, misalnya: menggambar, membuat grafik, peta, diagram.
  • Motor activities, yang termasuk di dalamnya antara lain: melakukan percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
  • Mental activities, sebagai contoh misalnya: menganggapi, mengingat, memecahkan soal, menganalisa, melihat hubungan, mengambil keputusan.
  • Emotional activities, seperti misalnya: menaruh minat, merasa bosan, gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.

Jadi dengan klasifikasi aktivitas seperti diuraikan diatas, menunjukkan bahwa aktivitas siswa di sekolah cukup kompleks dan bervariasi. Kalau berbagai macam kegiatan tersebut dapat diciptakan di sekolah, tentu sekolah-sekolah akan lebih dinamis, tidak membosankan dan benar-benar menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal dan bahkan akan memperlancar peranannya sebagai pusat dan transformasi kebudayaan. Tetapi sebaliknya ini semua merupakan tantangan yang menuntut jawaban dari para guru. Kreativitas guru mutlak diperlukan agar dapat merencanakan kegiatan siswa yang sangat bervariasi itu.

Pembelajaran kooperatif merupakan suatu strategi pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokan/ tim kecil, yaitu antara empat sampai enam orang yang mempunyai latar belakang berbeda (heterogen). Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok. Setiap kelompok akan memperoleh penghargaan atau reward jika kelompok mampu menunjukkan prestasi yang diprasyaratkan.  Dengan demikian setiap anggota kelompok akan mempunyai ketergantungan positif. Hal yang menarik dari strategi pembelajaran ini adalah dampak pembelajaran yaitu berupa peningkatan hasil belajar peserta didik (student achievement) juga mempunyai dampak penggiring seperti relasi sosial, penerimaan terhadap peserta didik yang dianggap lemah, harga diri, norma akademik, penghargaan terhadap waktu, dan suka memberi pertolongan padayang lain.

Salah satu bagian dari pembelajaran kooperatif yang bisa digunakan adalah strategi kooperatif tipe STAD.Student Team-Achievement Division (STAD) merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dan merupakan mudah dilaksanakan. Dalam STAD ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan STAD antara lain :

  • Menyampaikan SK, KD, Tujuan pembelajaran dan metode yang akan digunakan;
  • Guru membentuk kelompok belajar siswa secara heterogen;
  • Guru menyiapkan LKS sebagai bahan panduan siswa dalam melaksanakan diskusi;
  • Salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas dan kelompok lain menanggapinya;
  • Guru memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran;
  • Guru memberikan reward atau penghargaan tim (super team, best team, good team);
  • Menutup pembelajaran.

 

METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu bentuk penelitian reflektif yang dilakukan oleh pendidik sendiri terhadap kurikulum,pengembangan sekolah, meningkatkan prestasi belajar, pengembangan keahlian mengajar, dan sebagainya (McNiff dalam Supardi, 2010: 102). Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai guru yang mengajar di kelas XI Multimedia SMK PGRI Kota Tegal.

Berikut gambaran dari pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas menurut Hopkins dalam Suharsimi, (2010: 105)  adalah sebagai berikut.

 

 

Gambar 1.  Spiral Penelitian Tindakan Kelas (Hopkins)

Subjek  dari penelitian ini adalah kelas XI Multimedia SMK PGRI Kota Tegal Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal tahun pelajaran 2018/2019  yang berjumlah 27  siswa, terdiri dari 11 siswa laki-laki dan 16 siswa perempuan.Objek dari penelitian ini adalah (1) hasil belajar siswa;  (2) aktivitas siswa dalam proses pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Division (STAD). Lokasi Penelitian Tindakan Kelas dilaksanakan di SMK PGRI Kota Tegal terletak  di Jalan Halmahera no.59 Kelurahan Mintaragen Kecamatan Tegal Timur Kota Tegal Jawa Tengah Indonesia.Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan di awal semester genap tahun pelajaran 2018/2019 yaitu pada bulan Februari sampai Maret.Indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut.

  • Apabila jumlah siswa berkategori tuntas belajar minimal 65% dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) hasil evaluasi pada siklus I dan siklus II minimal 70,00.
  • Aktivitas siswa berada pada kualifikasi tinggi (aktif).

Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa perangkat instrumensebagai alat yang digunakan untuk mengumpulkan data. Adapun instrumen-instrumen yang digunakan antara lain:

  • lembar Kerja Siswa (LKS) sebagai bahan panduan siswa melakukan diskusi;
  • soal-soal evaluasi pada setiap akhir siklus terdiri dari 4 soal uraian singkat;
  • lembar observasi aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

  • Tes

Tes dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe STAD. Tes dilaksanakan pada setiap akhir siklus dengan memperhatikan beberapa hal antara lain:

  • standar kompetensi, kompetensi dasar, indikator dan materi pokok yang sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP);
  • buku-buku pelajaran yang digunakan sekolah tempat penelitian dilaksanakan dan buku-buku fisika lainnya yang relevan dengan materi yang akan diteliti.
  • Observasi

Lembar observasi digunakan untuk memperoleh data mengenai aktivitas siswa selama proses pembelajaran kooperatif tipe STAD berlangsung.

Setelah dilakukan proses pembelajaran, data yang diperoleh kemudian dianalisis. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang digunakan adalah sebagai berikut.

  • Hasil Belajar

Tes hasil belajar digunakan untuk mengukur tingkat ketuntasan belajar siswa. Untuk menentukan ketuntasan belajar siswa (individual) dapat dihitung dengan menggunakan persamaan (Trianto, 2009: 241) sebagai berikut.

KB =

Dimana:

KB

= ketuntasan belajar

T

= jumlah skor yang diperoleh siswa

Tt

= jumlah skor total                                                

Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh pihak sekolah tempat penelitian untuk mata pelajaran fisika yaitu siswa dikatakan tuntas apabila hasil belajar mencapai nilai  70.

Untuk persentase hasil belajar siswa dihitung dengan menggunakan rumus (Anas Sudijono, 2010: 43) adalah sebagai berikut.

P =

Dimana:

P

= angka presentase

F

= frekuensi yang sedang dicari persentasenya

N

= jumlah frekuensi/ banyaknya individu

 

Dari hasil evaluasi belajar,skoryangdiperoleh siswa dikelompokkan dengan menggunakan kualifikasi pada tabel berikut.

 

Tabel 1. Kualifikasi hasil belajar siswa

Kualifikasi

Kriteria

80

Sangat Baik

66 – 79

Baik

56 – 65

Cukup

46 – 55

Kurang

 

Gagal

(Anas sudijono, 2007: 30)

Untuk menghitung rata-rata nilai tes yang diperoleh siswa digunakan rumus sebagai berikut.

Keterangan:

Σx

N

: Mean (rata-rata)

: Jumlah dari skor-skor (nilai-nilai)

: Number of cases (banyaknya skor-skor)

(Anas Sudijono, 2010: 81)

  • Analisis Data Observasi Aktivitas Siswa

Data hasil penelitian dapat dilihat dari hasil skor pada lembar observasi yang digunakan. Pada perhitungan aktivitas siswa digunakan teknik persentase. Cara menghitung persentase aktivitas siswa berdasarkan lembar observasi untuk setiap kali pertemuan adalah sebagai berikut.

Presentasi =

Hasil data observasi ini kemudian dianalisis dengan pedoman sebagai berikut.

Tabel 2. Kualifikasi persentase keaktifan siswa

Presentase (%)

Kriteria

75 – 100

Sangat Aktif

50 - 74,99

Aktif

25 - 49,99

Sedang

0 - 24,99

Rendah

(Acep Yoni, dkk, 2010: 175-176)

Pada setiap aspek lembar observasi aktivitas siswa, pengamat memberikan checklist apabila siswa itu melakukan aktivitas. Setiap aspek dalam setiap kali pertemuan, jumlah siswa yang aktif kemudian dipersenkan. Setelah itu, berdasarkan hasil persentase dari masing-masing aspek  dikualifikasikan berdasarkan kualifikasi keaktifan siswa. Dari masing-masing hasil kualifikasi pada setiap aspek yang diamati dicarikan modusnya. Pada siklus II perhitungannya juga sama seperti perhitungan pada siklus I. Bandingkan persentase aspek pada siklus I dan siklus II maka akan telihat peningkatan aktivitas setiap aspek tersebut.  

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa terjadi peningkatan hasil belajar siswa, hal ini dapat dilihat dari persentase ketuntasan belajar siswa secara klasikal yang meningkat pada evaluasi siklus I yakni sebanyak 17 orang siswa atau 62,96% menjadi 18 orang siswa atau 66,67% pada siklus II.Selama proses pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe student teams-achievement division (STAD) pada materi bunyi terjadi pula peningkatan rata-rata aktifitas siswa sebesar 13,34%, yakni pada pertemuan pertama sebesar 54,44% dan pada pertemuan keempat sebesar 67,78%

Siklus I

Data hasil tes pada siklus I disajikan pada diagram berikut:

 

 Gambar 2. Diagram Siklus I

Berdasarkan hasil evaluasi pada siklus I, diperoleh rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 67,70. Diagram  di atas menunjukkan bahwa dari 27 orang siswa sebanyak 3 orang siswa atau 11,11% berada pada kualifikasi “sangat baik”, sebanyak 15 orang siswa atau 55,56% berada pada kualifikasi “baik”, sebanyak 5 orang siswa atau 18,52% berada pada kualifikasi “cukup”, dan sebanyak 4 orang siswa atau 14,81% berada pada kualifikasi “kurang”. Jika dilihat dari kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM) sekolah dari 27orang siswa, ada 17 orang siswa atau 62,96%  berada pada kategori tuntas sedangkan yang masih belum tuntas atau berada dibawah KKM ada 10 orang siswa atau 37,04%

Siklus II

Data hasil tes pada siklus II disajikan pada diagram berikut:

 

 Gambar 3. Diagram Siklus II

Berdasarkan hasil evaluasi pada siklus II, diperoleh rata-rata hasil belajar siswa secara klasikal adalah 70,89. Diagram di atas menunjukkan bahwa dari 27 orang siswa sebanyak 4 orang siswa atau 14,81% berada pada kualifikasi “sangat baik”, sebanyak 16 orang siswa atau 59,26% berada pada kualifikasi “baik”, dan sebanyak 6 orang siswa atau 22,22% berada pada kualifikasi “cukup”. Jika dilihat dari Kriteria Ketuntasan Mengajar (KKM) sekolah dari 27 orang siswa, ada 18 orang siswa atau 66,67%  berada pada kategori tuntas sedangkan yang masih belum tuntas atau berada dibawah KKM ada 9 orang siswa atau 33,33%. Hal ini menunjukan bahwa lebih dari 65% siswa telah mencapai ketuntasan belajarnya, artinya  pembelajaran melalui model kooperatif tipe STAD pada siklus II telah tercapai.

 Hasil observasi aktivitas siswa

Data hasil observasi aktivitas siswa pada siklus I dan siklus II disajikan pada diagram berikut:

 

Gambar 4. Diagram Hasil Observasi Aktivitas Siswa

Berdasarkan diagram di atas dapat terlihat aktivitas siswa nampak mengalami peningkatan disetiap siklusnya. Berdasarkan hasil observasi dengan dicarikan modus dari setiap aspek yang diamati, untuk aspek A1 pada siklus I berada pada kualifikasi “sangat aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “sangat aktif”. Untuk aspek A2 pada siklus I aktivitas siswa berada pada kualifikasi “cukup aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “aktif”. Untuk aspek A3 pada siklus I berada pada kualifikasi “aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “aktif”. Untuk aspek A4 aktivitass siswa berada pada kualifikasi “sangat aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “sangat aktif”. Untuk aspek A5 aktivitas siswa berada pada kualifikasi “aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “sangat aktif”. Untuk aspek A6 aktivitas siswa berada pada kualifikasi “cukup aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “cukup aktif”. Untuk aspek A7 aktivitas siswa berada pada kualifikasi “sangat aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “sangat aktif”. Untuk aspek A8 aktivitas siswa yang diamati berada pada kualifikasi “cukup aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “aktif”. Untuk aspek A9 aktivitas siswa yang diamati berada pada kualifikasi “cukup aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “aktif”. Untuk aspek A10 aktivitas siswaberada pada kualifikasi “cukup aktif” dan pada siklus II berada pada kualifikasi “aktif”. dengan peningkatan persentase pada masing-masing aspek yang diamati. Siswa terlihat sangat antusias dalam mengikuti pelajaran memahami materi bunyi dengan pembelajaran  kooperatif tipe Student Teams-Achievement Division (STAD). Hal ini dapat dilihat dari peningkatan presentase aktivitas siswa selama siklus I dan II. Berdasarkan modus data hasil perhitungan aktivitas siswa maka pada siklus I secara keseluruhan aktivitas siswa dapat dikategorikan berada pada kualifikasi cukup aktif dan aktif, sedangkan pada siklus II aktivitas siswa dapat dikategorikan berada pada kualifikasi aktif dan beberapa aspek berada pada kualifikasi sangat aktif.

 

PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut.

  • Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) pada pelajaran fisika materi bunyi dapat meningkatkan hasil belajar siswa, hal ini bisa dilihat dari hasil evaluasi ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada akhir siklus II yakni sebanyak 18 orang siswa atau 66,67% memperoleh nilai di atas KKM sedangkan yang belum memenuhi KKM adalah 9 orang siswa atau 33,33%. Pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) juga dapat meningkatkan rata-rata hasil belajar siswa.
  • Selama proses pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) pelajaran fisika pada materi bunyi sebagian besar aktivitas siswa pada siklus I berada pada kualifikasi cukup aktif dan aktif sedangkan pada siklus II aktivitas siswa berada pada kualifikasi aktif dan ada beberapa aspek mencapai kualifikasi sangat aktif.

Saran

Berdasarkan kesimpulan yang diperoleh dalam penelitian ini, maka penulis menyampaikan beberapa saran yaitu:

  • Diharapkan adanya penelitian lanjutan mengenai pembelajaran dengan pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) dengan menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) tetapi pada tempat, materi, dan model yang berbeda.Bagi guru bidang studi fisika hendaknya bisa menerapkan strategi pembelajaran kooperatif tipe Student Teams-Achievement Divisions (STAD) sebagai salah satu altenatif pilihan yang bisa digunakan guru dalam mengajar fisika guna meningkatkan hasil dan membangun motivasi belajar agar siswa merasa senang dan tidak merasa bosan dengan pembelajaran fisika.
  • Bagi sekolah, dari hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat menjadi masukan dan saran informasi bagi SMK PGRI Kota Tegal guna sebagai bahan acuan perbaikan program pengajaran bidang studi fisika pada khususnya.
  • Bagi peneliti, penelitian ini dapat menjadi titik tolak peneliti dalam meningkatkan kemampuan mengajar dengan mengembangkan model pembelajaran kooperatif dalam dunia pendidikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Acep Yoni, dkk. 2010. Menyusun Penelitian Tindakan Kelas. Yogyakarta: Familia Pustaka Keluarga.

 Anas Sudijono. 2010. Pengantar Statistika Pendidikan. Bandung: Rajawali Pers.

----------. 2007. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Hamzah B, Uno. 2011. Belajar Dengan Pendekatan PAILKEM. Jakarta: Bumi Aksara.

Nana Sudjana.2004.  Dasar-dasar Proses Pembelajaran. Bandung:  Sinar Baru Algensindo.

Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara

Sardiman, A. M. 2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Suharsimi Arikunto.2010. Penelitian Tindakan Kelas: Bumi Aksara.

Tim Pengembangan MKDP Kurikulum dan Pembelajaran. Maret 2011. Kurikulum & Pembelajaran. Bandung : Rajawali Pers.

 

Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
8 Manfaat Online Learning Sebagai Metode Pembelajaran Terkini di era pandemi COVID-19

Beberapa tahun terakhir pembelajaran dengan metode online learning atau e-learning mulai banyak digalakkan oleh berbagai kalangan. Cara tersebut dianggap dapat menjadi alternatif untuk

02/03/2021 23:12 - Oleh Administrator - Dilihat 51658 kali
6 Metode Pembelajaran Paling Efektif di Masa Pandemi Menurut Para Pakar

Setelah munculnya wabah Covid-19 di belahan bumi, sistem pendidikan pun mulai mencari suatu inovasi untuk proses kegiatan belajar mengajar. Terlebih adanya Surat Edaran no. 4 tahun 202

02/03/2021 23:12 - Oleh Administrator - Dilihat 32848 kali
SOP PELAKSANAAN UTS 2020/21

27/02/2021 00:26 - Oleh Administrator - Dilihat 1655 kali
Marching Band Terbaik 1 Kota Tegal

Congratulation...!! kepada Halmahera Marching Band atas prestasi yang di raih sebagai drumband terbaik I di pawai rolasan 2019 Kota Tegal.. Let's stay at the best...!

30/10/2020 13:06 - Oleh Administrator - Dilihat 886 kali
SMK PGRI Kedatangan Ulama dari Palestina

SMK PGRI TEGAL menyelenggarakan kuliah Duha dengan menghadirkan ulama dari Palestina, Syekh Mohamed Ad Dahwadi. Kuliah Duha dipandu oleh penerjeman KH Zaenal Marzuki yang merupakan dose

30/10/2020 13:06 - Oleh Administrator - Dilihat 1045 kali